-->

“Sepakbola Dalam Kacamata Filosofi Kehidupan”

Pada abad 21, Rasanya dengan perkembangan Teknologi dan Informasi seperti saat ini, Tidak ada lagi orang yang asing dengan olahraga Sepakbola. Sepakbola saat ini merupakan salah satu olahraga yang sangat populer. Dari pelosok belahan Dunia, hingga Kota Kota besar sangat menyambut antusias terhadap olahraga yang satu ini. Disamping sebagai sebuah mata pencaharian yang menakjubkan, hingga hiburan yang menarik bagi para penikmatnya. Di Pelosok Negeri, mulai dari anak anak, dewasa, tua dan muda tidak bisa dipisahkan dari fanatisme terhadap sepakbola. Di Indonesia, Sepakbola sudah dikenal puluhan tahun yang lalu. Bahkan pada masanya, Club -club dari persepakbolaan Indonesia sangat dikenal dan di segani di Asia. Dari persepakbolaan, lahirlah sebuah kekeluargaan yang fanatik. Sebuah persatuan dan kekompakan yang sangat kokoh, persaudaraan yang tinggi nilainya. Dalam persepakbolaan banyak mengajarkan arti dari kehidupan. Tidak jarang juga kita mendengar dan melihat fanatisme yang salah terhadap sepakbola terkadang menjadikan nyawa dan harga diri terlalu rendah nilainya. Padahal dalam filosofi yang benar, sepakbola mengajarkan arti sebuah kekeluargan yang tidak harus sedarah, kekompakan yang tidak mengenal ras, suku bahkan Agama, tetapi mengajarkan arti cinta dan kesetiaan.




Baca juga :Antara diantara part 01

baca part 02: Antara diantara

Sepakbola menjadikan indahnya sebuah persatuan dengan moralitas yang luhur. Sudah saatnya, kita bangun dan dukung persepakbolaan Indonesia menjadi peradaban baru yang menyejukkan. Rasa lapang dada dan menerima dengan sepenuh hati, merupakan sebuah nilai besar dari sepakbola. Komunitas besar para suporter dari Liga Indonesia, sudah terbentuk puluhan tahun yang lalu yang semakin hari penuh dengan kesejukan dan cinta dari Sepakbola. Saat ini, perkumpulan suporter Indonesia dengan berbagai namanya, tidak kalah dengan suporter Europa. Bahkan fanatisme suporter Indonesia sudah termasuk yang terbaik di Asia. Maka tidak mengherankan bila dalam sebuah pertandingan BigMatch di Indonesia dihadiri hingga 80.000 Penonton. Iyaa angka yang sangat fantastis.. menyerupai jumlah penonton pada perhelatan Final Liga Champions Europa. Namun sangat disayangkan, pada kesempatan yang sama sering juga kita di gemparkan dengan perkelahian antar suporter hingga hilangnya nyawa dengan harga yang murah. Sungguh miris dan menyayat hati kita. Namun harus kita syukuri, karena semakin hari suporter Indonesia kian berubah dan menyejukkan. Kita tidak asing lagi dengan nama nama besar perkumpulan suporter yang ada di tanah air, sebut saja Viking dari Persib Bandung, TheJak Mania Persija Jakarta, Aremania dari Arema , Bonek Persebaya Surabaya, LaMania Persela Lamongan, SMeCK PSMS Medan, Panser Biru PSIS Semarang, The Macz Man PSM Makassar, Dan masih banyak perkumpulan Suporter di Indonesia yang tidak bisa penulis sebut satu persatu, namun tidak menghilangkan hormat dan bangga terhadap mereka. Mereka merupakan Perkumpulan besar yang akan merubah Persepakbolaan Indonesia menjadi pesan moral yang tinggi kepada seluruh pecinta sepakbola di belahan Dunia manapun.Karena sepakbola mengajarkan cinta, moralitas dan kasih sayang. Bukan mengajarkan murka dan anarkis. Lebih disayangkan lagi, disaat yang bersamaan juga kita mendengar pejabat tinggi Kementrian Pemuda dan Olahrga terindikasi Koruptor. Padahal masyarakat Indonesia sedang berjuang untuk lahirnya sepakbola yang indah, bermartabat, berkualitas dan menyenangkan. Sebuah pelajaran berharga yang penulis belajar dari Persepakbolaan Aceh dengan Club kebanggan dan icon Kota Banda Aceh, Persiraja Banda Aceh. Persiraja sendiri merupakan Club yang di segani dikancah persepakbolaan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan Persiraja yang pernah menjuarai Ajang Perserikatan pada masa ke jayaannya. Saat ini, Persiraja di bawah Presiden Club Bapak Nazaruddin atau yang biasa dikenal Dek Gam, saat ini sedang berjuang untuk kembali bermain di kancah tertinggi Persepakbolaan Indonesia. Ketika Persiraja bermain di depan publiknya, maka antusiasme Masyarakat Aceh untuk mendukung langsung ke stadion sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya puluhan ribu pendukungnya saat Persiraja bertanding di Stadion “angkernya” H. Dimoertala Lampineung Banda Aceh. Seluruh lawan yang bermain di stadion ini pasti akan merasakan Atmosfer yang tinggi selama 90 Menit. Iyaa, mereka hanya menjadikan lawan itu sebagai sasaran teror ketika didalam Stadion. Harus penulis akui, Terkadang ada insiden yang tidak etis dilakukan oleh segelintir penonton yang hadir. Namun penulis merasakan sendiri seluruh Penonton dan Suporter selalu mengecam dengan keras para oknum pelempar tersebut. Artinya, Para Suporter, Fans dan para pecinta Persiraja sedang berproses menjadi penonton yang menjadi kiblat Persepakbolaan di Indonesia. “Semoga Indonesia Berbenah Menuju Persepakbolaan yang sehat, Menjunjung Tinggi Nilai Nilai Moral”.

Aceh Besar, 19 September 2019

0 Response to "“Sepakbola Dalam Kacamata Filosofi Kehidupan”"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel